Lucu!! Proyek BWSS VI Rp 12,9 M Dikerjakan PT Ponjen Emas di Sungai Batang Merao Kerinci Cuma Tanggul Karung

0

Siasatinfo.co.id, Berita Kerinci – Aneh dan lucu penampakan pekerjaan konstruksi proyek pembangunan tanggul dan normalisasi untuk pengendalian banjir dari BWSS VI Jambi dikerjakan PT Ponjen Emas, berlokasi sepanjang bantaran Sungai Batang Merao Kerinci dari Mukai Hilir sampai Semurup cuma tanggul karung.

Tampak jelas sampai saat ini hanya karung berjejer berisi material pasir dan koral sepertinya sebagai tanggul pengendalian banjir dan pengerokan dasar aliran sungai.

Proyek tender dimenangkan PT Ponjen Emas habiskan anggaran APBN 2026 sebesar Rp. 12.988.000.000,- (Rp.12, 988 Miliar itu, diduga cacat mutu dengan menyalahi spek pekerjaan dalam RAB.

Berdasarkan data dihimpun, konstruksi ini dari Satuan Kerja SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Sumatera VI Provinsi Jambi. Kategori Pengendalian Banjir & Sungai (SNVT Sumatera VI) dengan waktu pelaksanaan 300 hari kalender.

Menurut beberapa keterangan warga sekitar lokasi proyek normalisasi Sungai Batang Merao turut prihatin terhadap pelaksanaan fisik proyek tersebut.

“Kontraktor PT Ponjen Emas hanya memakai alat berat melakukan pengerukan material pasir dan koral, kerjaan nya sangat enteng.

Seharusnya tanggul lebih permanen bukan cuma karung berisi material pasir koral. Lebih pas nya pakai boronjong atau lebih permanen memakai pasangan beton.”

“Mutu dan kualitas pekerjaan tanggul sangat dipertanyakan. Jika datang banjir lagi karung-karung berjejer itu bisa habis terseret banjir, apa tidak mubazir nantinya,”ujar warga.

Terpisah dikatakan Mulyadi, selain mutu dan kualitas proyek pembangunan tanggul dan normalisasi Sungai Batang Merao Kerinci, senilai puluhan miliar oleh BWSS VI Jambi pun dapat berpotensi korupsi.

“Kesannya proyek ini hanya habiskan volume disekitar lokasi tanpa hunian rumah penduduk, sementara titik-titik paling rawan banjir seperti Kecamatan Depati 7 tidak tersentuh.”

Lucunya lagi, ada lokasi titik rawan banjir dari Desa Plak Gedang, Sungai Lebuh, Sungai Pegeh yang lokasi hunian penduduk terancam banjir juga tidak tersentuh.”

“Proyek dikerjakan PT Ponjen Emas sangat kita sesali kenapa dikerjakan pada lokasi tidak ada hunian rumah penduduk yang saban waktu terancam terseret banjir. Kerja asalan dan enteng ini dapat berpotensi korupsi besar-besaran kontraktor pelaksana,”Ujarnya Mulyadi.

Publik menilai bahwa kejanggalan pekerjaan konstruksi sekelas proyek nasional dari BWSS VI Jambi lokasi Mukai Hilir Link Semurup, habiskan dana APBN 2026 sebesar Rp. 12.988 M cukup mengkuatirkan.

Dengan habiskan puluhan miliar APBN tahun 2026 setidaknya bermanfaat dalam pengendalian dan pencegahan bagi rumah warga ramai penduduk yang terimbas banjir. Bukan sebaliknya di lokasi sepi* (Tim/Red)