Pasca Penyerangan Ratusan Massa ke Mapolsek Sungai Pagu Solok Selatan, IPW Minta Kapolri Listyo Evaluasi Aparatur Polsek

0
Pasca Penyerangan Mapolsek Sungai Pagu, Solok Selatan, Sumbar, Rabu (27/1/2021) Sore, Polda Sumatera Barat (Sumbar) mengerahkan 85 personel Brimob Guna Pengamanan. Media Siasatinfo.co.id
Spread the love

Siasatinfo.co.id, Jakarta – Terkait soal penyerangan Mapolsek Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat, dilempari batu dan dirusak sekitaran 200 massa. Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane melihatnya sebagai ironi.

Peristwa ini terjadi baru beberapa jam setelah Jenderal Listyo Sigit Prabowo dilantik sebagai Kapolri dengan membawa konsep Polsek paradigma baru.

Begitu Listyo Sigit menyatakan ke depan Polsek tidak boleh lagi menangani kasus. Polsek bertindak sebagai pembina dan pengendali kamtibmas. “Tak pelak kasus penyerangan Polsek Sungai Pagu ini menjadi ironi dan sekaligus tantangan bagi kapolri baru,” ujarnya Neta, Jumat (29/1/2021).

Neta berpendapat bahwa bagaimana pun konsep baru kinerja Polsek yang digagas Listyo Sigit perlu ditata dengan komperhensif, agar jajaran Polsek menjadi lebih peka pada upaya deteksi dini. Dengan begitu segera bisa dilakukan langkah antisipasi, baik saat melakukan tindakan maupun paska melakukan tindakan.

“Dengan kepekaan dan antisipasi yang tinggi, Polsek tidak lagi menjadi bulan-bulanan amuk massa. Dan program Polsek paradigma baru yang digagas Kapolri Sigit bisa berjalan maksimal dan membawa polri benar benar presisi,” tutur Neta.

Neta menuturkan, kasus di Polsek Sungai Pagu bermula dari penangkapan tersangka DC, buronan kasus penjudian yang juga diduga sering memalak warga. Saat ditangkap tersangka.

DC melakukan perlawanan, dengan cara menyerang petugas dengan sebilah senjata tajam. Salah seorang polisi berhasil ditusuknya hingga bagian tangan dan bagian tubuh lainnya luka luka.

“Karena membahayakan petugas, polisi melepaskan tembakan ke arah pelaku guna melumpuhkannya. Tembakan mengenai bagian kepala pelaku. Akhirnya, Pelaku dinyatakan meninggal dunia di RSUD Solok Selatan,” bebernya.

Neta melanjutkan, kematian tersangka ini memicu amarah keluarga dan kerabat pelaku. Mereka lalu ramai-ramai mendatangi Mapolsek Sungai Pagu. Lalu melempari Mapolsek dengan batu hingga benda keras lainnya. Ada sekitar 200 orang lebih yang menyerang Polsek.

Menurutnya, akibat penyerangan ini, ruangan penjagaan dan tempat penerimaan laporan atau pelayanan masyarakat rusak berat.

Semua kaca pada ruangan itu rusak berat. Meski demikian, fasilitas lainnya hingga kedaraan yang terparkir di halaman Mapolsek tidak ada yang mengalami kerusakan.

Lebih lanjut Neta mengatakan, setelah menyerang Mapolsek Sungai Pagu, massa memblokade jalan penghubung Padang Aro-Muara Labuh. Ruas jalan yang diblokade itu merupakan jalan lintas utama yang menghubungkan Provinsi Sumbar dengan Kerinci, Provinsi Jambi.

Menurutnya, kasus ini harus menjadi pembelajaran bagi kapolri baru Sigit yang hendak menggagas Polsek paradigma baru.

Dari kasus ini, sambung dia, bisa terlihat bagaimana kemampuan deteksi dini jajaran Polsek dalam menghadapi sebuah peristiwa. Lalu sejauhmana aparatur Polsek bersikap terlatih dalam menghadapi tersangka.

Serta sejauhmana aparatur Polsek taat SOP yang sudah menjadi ketentuan baku di Polri. Dan aparatur taat hukum bahwa tugasnya adalah melumpuhkan tersangka dan bukan menjadi algojo, yang main tembak kepala saat hendak melumpuhkan tersangka.

Dari kasus Polsek Sungai Pagu ini, Neta menyebut, sebelum menjalankan konsep Polsek paradigma baru, kapolri Sigit perlu mengevaluasi kualitas aparatur Polsek untuk melatih mereka agar profesional dan benar benar terlatih menjadi anggota kepolisian di ujung tombak Polri.

Kapolri Sigit perlu juga mengevalusi persenjataan semua anggota Polsek agar diketahui kualitas nya, sehingga senjata itu benar-benar bisa presisi, jangan mau menembak kaki yang kena malah kepala.

“Dan dalam kasus Polsek Sungai Pagu ini, siapa pun yang melakukan pelanggaran hukum dan bertindak semena mena harus diseret ke pengadilan, baik itu anggota polisi maupun anggota masyarakat yang anarkis,” paparnya seperti dilansir dari Sindosnews.(Ydi/Red).

Sumber: Sindonews

Tinggalkan Balasan