Soal Uang Siraman Cakades Banjiri Kampung Adirozal, Ini kata Alpianto

0
Kades Terpilih Desa Koto Beringin, Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci, Reza Pahlevi, S.Pd. Media Siasat Info
Spread the love

Siasatinfo.co.id, Berita Kerinci – Mencuat soal siraman Cakades banjiri Kampung kelahiran Bupati Kerinci, Adirozal pada Pilkades, Selasa (6/4/21) dua hari lalu, disebut – sebut nama Alpianto, ST MT, sebagai sponsor tunggal pendana Cakades nomor urut 3, Reza Pahlevi, S.Pd, dibantah keras oleh Alpianto.

Situasi Dalam Hall Badminton Koto Beringin saat Pilkades, Selasa (6/4/21). Harian online Siasatinfo,co,id

Hal ini dikatakan Alpianto kepada siasatinfo.co.id via seluler WhatsApp, Kamis (8/4/21) sekitar pukul 12:00 wib, bahwa penyiraman uang sebesar Rp.400 ribu per kepala dari Cakades Reza Pahlevi, S.Pd, nomor 3 itu sama sekali tidak benar adanya.

“Itu tidak benar ada penyiraman uang 400 ribu dari kami. Itu hanya mop saja dari kami dalam mengatur strategi. Kami hanya bisa jual mop, karena kandidat Reza Pahlevi tidak punya uang.

“Memang ada informasi yang kami dapat, pihak dari sebelah nyiram Rp.400 ribu, cakades lainnya Rp 300 ribu dan dipotong Timses 50 ribu per kepala,”ujar Alpianto yang tertuding pendana Cakades.

Ditambahkannya lagi,”biasanya keluarga kita yang bantu keluarga orang itu supaya menang. Ya, sekarang muncul calon dari keluarga kita, dia ponakan saya dan menang pula, tentu bermacam – macam pula isu yang mereka tebar.

“Lucu lagi, sampai-sampai pak bupati milih di bilang memihak. Logikanya, tidak mungkin lah Bupati memilih semua kandidat,”tutur Alpianto kepada siasatinfo.co.id.

Informasi diperoleh sebelum hari pemilihan Cakades, para kandidat sudah berjanji dan bersumpah dalam Musholla usai sholat Jum’at tidak main uang. Namun faktanya salah satu kandidat tidak mau hadir, karena malamnya terlebih dahulu melakukan penyiraman.

Karena ketidakhadiran tersebut, pelaksanaan sumpah urung dilaksanakan dalam musholla. Padahal masyarakat telah hadir, mereka pun pulang dan kecewa atas gagal ucapan sumpah dan janji depan tokoh masyarakat setempat.

“Aneh lagi, ponakan saya disuruh mundur, selain tak punya massa juga tidak punya uang.

“Eh karena Kuda Hitam menang, makanya ribut. Malah sampai pagi mereka masih sibuk menyiram uang. Ponakan kami pun kelabakan jadinya,”imbuh Alpianto.(Dfi/Red)

Tinggalkan Balasan